Pendekatan Deep Learning dan Pengembangan Enam Kompetensi Global
Pendekatan ini menekankan pengembangan enam kompetensi global yang disebut sebagai 6C’s
Deep
Learning menurut Michael Fullan dan rekan-rekannya
bukan sekadar penggunaan teknologi atau kecerdasan buatan dalam pembelajaran,
melainkan sebuah pendekatan pedagogis transformatif yang bertujuan untuk
membekali siswa dengan kompetensi mendalam agar mampu terlibat aktif dan
memberikan kontribusi nyata dalam dunia yang terus berubah. Tujuan utamanya
adalah membantu siswa menjadi agen perubahan positif dengan menggeser fokus
pendidikan dari sekadar penyampaian konten menuju pengembangan keterampilan,
karakter, dan nilai-nilai yang relevan dengan abad ke-21.
Pendekatan
ini menekankan pengembangan enam kompetensi global yang disebut sebagai 6C’s,
yaitu: Character (karakter) yang mencakup etika, empati, dan ketekunan; Citizenship
(kewarganegaraan) yang menumbuhkan kepedulian terhadap isu global dan
partisipasi aktif dalam komunitas; Collaboration (kolaborasi) yang
mendorong kemampuan bekerja sama secara efektif; Communication
(komunikasi) yang menekankan kemampuan menyampaikan ide secara jelas dalam
berbagai konteks; Creativity (kreativitas) yang melibatkan pemikiran
inovatif dan solusi baru; serta Critical Thinking (berpikir kritis) yang
mencakup kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan secara
bijak.
Untuk
mewujudkan Deep Learning, Fullan dkk menekankan tiga elemen inti yang
perlu dihadirkan dalam proses pembelajaran, yaitu: pedagogi baru yang diperkaya
teknologi, kemitraan yang sejajar antara guru dan siswa, serta lingkungan
belajar yang mendukung keagenan siswa, yakni memberi mereka kontrol, motivasi,
dan tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri. Dalam konteks ini,
guru berperan sebagai desainer pengalaman belajar, bukan lagi sekadar penyampai
informasi, sementara sekolah menjadi ekosistem pembelajaran yang menghubungkan
siswa dengan dunia nyata.
Elemen
inti pertama, pedagogi baru yang diperkaya teknologi bukan hanya
menekankan pada penggunaan perangkat digital semata, tetapi pada perubahan
mendasar dalam cara mengajar dan belajar. Teknologi digunakan sebagai katalis
untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih kolaboratif, personal, dan
kontekstual. Guru berperan sebagai perancang pengalaman belajar yang
memfasilitasi eksplorasi, penciptaan, dan pemecahan masalah oleh siswa.
Pendekatan ini memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna karena
terhubung langsung dengan realitas dan minat siswa, serta memberikan mereka
akses ke sumber daya dan jejaring global.
Kedua,
kemitraan antara guru dan siswa menjadi kunci dalam membangun hubungan
belajar yang sejajar dan saling menghargai. Dalam konteks Deep Learning,
siswa tidak lagi diposisikan sebagai penerima pasif pengetahuan, melainkan
sebagai aktor utama yang memiliki suara, pilihan, dan tanggung jawab dalam
proses belajar. Guru dan siswa bersama-sama merancang tujuan pembelajaran,
menetapkan strategi, serta merefleksikan kemajuan secara kolaboratif. Model
kemitraan ini menciptakan lingkungan belajar yang lebih demokratis, di mana
kepercayaan, empati, dan kolaborasi menjadi nilai utama dalam interaksi
pendidikan.
Ketiga,
lingkungan belajar yang mendukung keagenan siswa menjadi faktor penting
untuk membentuk karakter pembelajar mandiri dan berdaya. Keagenan (agency)
di sini berarti bahwa siswa memiliki kontrol atas pembelajarannya, termotivasi
secara intrinsik, dan merasa bertanggung jawab atas perkembangan dirinya.
Lingkungan seperti ini ditandai dengan rasa aman untuk bereksperimen, ruang
untuk eksplorasi ide, serta keterhubungan dengan dunia nyata. Dalam lingkungan
ini, siswa tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga belajar untuk
memberi kontribusi positif kepada masyarakat. Dalam kerangka ini, peran sekolah
pun bergeser dari sekadar institusi akademik menjadi sebuah ekosistem
pembelajaran yang dinamis, tempat siswa tumbuh sebagai individu sekaligus
sebagai warga global. Sekolah menjadi penghubung antara pembelajaran di dalam
kelas dengan dunia luar, mendorong siswa untuk melihat pembelajaran bukan
sebagai kegiatan terpisah dari kehidupan, melainkan sebagai bagian integral
dari keterlibatan mereka dalam dunia yang kompleks dan penuh tantangan.





