Perjalanan Isra Mi'raj Rasulullah ﷺ merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang secara teologis dipahami sebagai mukjizat, yaitu kejadian luar biasa yang berada di luar hukum alam biasa. Peristiwa ini, yang diawali dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsa (Isra), lalu dilanjutkan naik menembus langit (Mi'raj), sering menjadi bahan refleksi ilmiah, termasuk dalam sudut pandang fisika modern. Walaupun ilmu pengetahuan tidak dapat membuktikan atau mengukur mukjizat secara empiris, konsep-konsep fisika dapat digunakan sebagai pendekatan analogi untuk memahami kemungkinan perjalanan supercepat dan melintasi dimensi tersebut. Dalam fisika modern, khususnya teori relativitas yang dikembangkan oleh Albert Einstein, ruang dan waktu bukanlah entitas yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang disebut ruang-waktu (ruangwaktu). Relativitas khusus menjelaskan bahwa semakin cepat suatu benda bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka waktu bagi benda tersebut akan melambat dibandingkan pengamat yang diam. Secara matematis, hal ini dinyatakan melalui faktor dilatasi waktu. Jika dianalogikan, perjalanan Isra Mi'raj yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat—bahkan dikisahkan hanya sebagian malam—dapat dibandingkan dengan konsep perbedaan waktu akibat kecepatan yang sangat tinggi. Artinya, secara teori relativitas, perjalanan jarak jauh dalam waktu yang relatif singkat bukanlah sesuatu yang sepenuhnya mustahil dalam kerangka fisika modern. Selain itu, dalam relativitas umum dikenal konsep kelengkungan ruang-waktu akibat massa dan energi. Beberapa teori kosmologi modern bahkan memunculkan gagasan “jembatan ruang-waktu” atau wormhole, yaitu kemungkinan adanya terowongan yang menghubungkan dua titik berbeda di alam semesta secara instan. Meski masih bersifat teoritis dan belum terbukti secara eksperimental, konsep ini sering digunakan sebagai analogi ilmiah untuk menggambarkan bagaimana perjalanan jarak yang sangat jauh dapat ditempuh tanpa harus melintasi seluruh ruang di antaranya secara konvensional. Dari sisi energi, perjalanan melintasi langit hingga Sidratul Muntaha tentu melampaui batas pemahaman fisika konvensional tentang gerak dan gravitasi. Dalam hukum fisika biasa, setiap benda bermassa memerlukan energi yang sangat besar untuk melawan gravitasi bumi, sebagaimana dijelaskan dalam hukum gravitasi Newton maupun relativitas umum. Namun dalam perspektif keimanan, Isra Mi'raj dipahami sebagai peristiwa yang berada di luar batas hukum alam biasa, sehingga tidak dibatasi oleh keterbatasan energi atau teknologi manusia. Dengan demikian, pembahasan Isra Mi'raj dalam sudut pandang fisika bukanlah upaya untuk mereduksi nilai spiritualnya, melainkan sebagai refleksi bahwa perkembangan ilmu pengetahuan modern menunjukkan adanya konsep-konsep seperti relativitas waktu, kelengkungan ruang-waktu, dan kemungkinan lintasan non-linier di alam semesta. Semua ini menampilkan bahwa alam semesta memiliki struktur yang jauh lebih kompleks daripada yang dipahami secara kasatmata. Pada akhirnya, Isra Mi'raj tetap diyakini sebagai mukjizat, sementara fisika memberikan kerangka intelektual untuk memikirkan kebesaran ciptaan dan keterbatasan akal manusia dalam memahami seluruh rahasia alam.