Seberapa Cepat Internet Sebenarnya Bekerja?
Internet sering dibayangkan sebagai ruang maya yang abstrak, padahal setiap pesan, video, dan notifikasi yang muncul di layar sebenarnya adalah perjalanan fisik sinyal yang tunduk pada hukum alam; ketika kamu mengirim pesan, data diubah menjadi pulsa listrik di kabel tembaga atau menjadi kilatan cahaya di dalam serat optik yang terjebak oleh pemantulan total internal, lalu melaju hampir secepat cahaya tetapi tetap dibatasi oleh relativitas seperti dijelaskan oleh Albert Einstein, sehingga selalu ada latensi minimum yang tidak mungkin dilampaui, tidak peduli seberapa canggih algoritmanya, karena fisika menetapkan batas 299.792 km per detik sebagai hukum keras alam semesta; di atas fondasi ini bekerja algoritma routing yang memilih jalur paling efisien bagi paket data, mirip sistem fisik yang secara matematis cenderung meminimalkan suatu besaran seperti waktu atau energi, sehingga internet sebenarnya adalah eksperimen optimisasi raksasa yang berlangsung setiap detik di seluruh planet; agar miliaran video dan gambar dapat dikirim tanpa membuat jaringan runtuh, internet memanfaatkan teori informasi yang dirumuskan oleh Claude Shannon, yang menunjukkan bahwa informasi memiliki ukuran matematis bernama entropi—konsep yang secara struktur persamaannya menyerupai entropi dalam fisika statistik yang dipopulerkan Ludwig Boltzmann—di mana semakin acak suatu pesan, semakin besar ketidakpastiannya dan semakin sulit ia dikompresi, sehingga algoritma kompresi pada dasarnya adalah upaya menemukan pola tersembunyi agar data bisa dipadatkan tanpa kehilangan makna penting; namun bahkan jika algoritma sudah sangat pintar, dunia fisik tetap menghadirkan batasan berupa noise termal, yaitu gangguan acak akibat gerakan elektron karena suhu, yang berarti tidak ada transmisi sinyal yang benar-benar bersih dan setiap sistem komunikasi harus bergulat dengan probabilitas kesalahan; server yang memproses data pun menghasilkan panas karena resistansi listrik, memaksa pusat data raksasa mengelola pendinginan agar hukum termodinamika tidak menjatuhkan performa sistem; dengan demikian, algoritma internet bukanlah entitas magis yang berdiri di luar sains, melainkan strategi matematis yang dirancang untuk bekerja seefisien mungkin dalam batas kecepatan cahaya, dalam lingkungan penuh gangguan acak, dan di bawah tekanan energi serta panas, sehingga setiap notifikasi yang tiba dalam sepersekian detik adalah hasil kompromi elegan antara elektromagnetisme, teori probabilitas, optimisasi matematis, dan kenyataan bahwa alam semesta memiliki aturan yang tidak pernah bisa dinegosiasikan.
Kontributor : AIM & OLP





