Model pengembangan DDDE (Decide, Design, Develop, Evaluate) merupakan pendekatan yang efektif dalam menciptakan media pembelajaran digital yang inovatif, menarik, dan bermakna.
Dalam dunia pendidikan modern, media pembelajaran menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Untuk menghasilkan media yang berkualitas, diperlukan model pengembangan yang sistematis dan terstruktur. Salah satu model yang cukup populer dan relevan dalam konteks desain media digital adalah Model DDDE (Decide, Design, Develop, Evaluate).
1. Pengertian Model DDDE
Model DDDE dikembangkan oleh Anita Harrow dan rekan-rekannya sebagai adaptasi dari model desain pembelajaran yang menekankan pada pengembangan media dan teknologi pembelajaran. DDDE merupakan model yang sederhana namun komprehensif untuk merancang dan mengembangkan media pembelajaran digital.
Model ini terdiri atas empat tahapan utama: Decide (menentukan), Design (merancang), Develop (mengembangkan), dan Evaluate (mengevaluasi).
2. Penjelasan Tahapan Model DDDE
Tahap ini merupakan langkah awal dalam menentukan: Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Karakteristik peserta didik, termasuk kemampuan awal, gaya belajar, dan kebutuhan belajar mereka Materi pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi media Jenis media yang paling tepat digunakan, seperti video interaktif, animasi, simulasi, atau modul digital. Tahap Decide menuntut analisis yang matang agar media yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan dan konteks pembelajaran. Tahap ini berfokus pada pembuatan rancangan awal media pembelajaran, yang meliputi: Penentuan alur isi dan struktur media (storyboard atau flowchart). Perancangan tampilan visual dan elemen interaktif. Pemilihan alat dan perangkat lunak yang akan digunakan dalam proses produksi Desain harus memperhatikan aspek pedagogis, estetika, dan teknologis, sehingga media yang dibuat tidak hanya menarik tetapi juga efektif untuk belajar. Pada tahap Develop, rancangan yang telah dibuat dikembangkan menjadi produk nyata. Aktivitas yang dilakukan antara lain: Pembuatan elemen-elemen grafis, audio, video, dan animasi. Integrasi seluruh komponen ke dalam satu kesatuan media yang utuh. Uji coba terbatas (alpha testing) untuk melihat kesesuaian fungsi dan tampilan. Tahapan ini sering kali membutuhkan kolaborasi antara desainer instruksional, ahli media, dan ahli materi agar produk yang dihasilkan memiliki nilai edukatif yang kuat. Tahap akhir adalah evaluasi, yang bertujuan untuk menilai efektivitas media yang dikembangkan. Evaluasi dilakukan melalui: Uji coba pengguna (beta testing) kepada siswa atau pengguna sesungguhnya. Pengumpulan data melalui angket, observasi, dan wawancara. Revisi berdasarkan masukan untuk menghasilkan versi final media yang siap digunakan. Evaluasi dalam DDDE bersifat formatif dan sumatif, memastikan media tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Kelebihan Model DDDE
Model DDDE memiliki sejumlah keunggulan:
Sederhana dan mudah diterapkan, terutama untuk pengembang media pemula. Fleksibel untuk berbagai jenis media pembelajaran digital Menekankan evaluasi berkelanjutan, sehingga kualitas produk selalu dapat ditingkatkan. Integratif, menggabungkan aspek desain instruksional dan pengembangan teknologi.
4. Contoh Penerapan Model DDDE
Sebagai contoh, dalam pengembangan media pembelajaran fisika berbasis simulasi digital, langkah-langkah DDDE dapat diterapkan sebagai berikut:
Decide: Menentukan topik “Gerak Lurus Berubah Beraturan” dan kebutuhan media berbasis simulasi interaktif.
Design: Membuat storyboard simulasi gerak partikel dan tampilan grafik kecepatan terhadap waktu.
Develop: Mengembangkan media menggunakan software seperti Adobe Animate atau Unity.
Evaluate: Mengujicobakan media kepada mahasiswa pendidikan fisika dan melakukan revisi berdasarkan hasil angket kepuasan serta peningkatan pemahaman konsep.
5. Penutup
Model pengembangan DDDE (Decide, Design, Develop, Evaluate) merupakan pendekatan yang efektif dalam menciptakan media pembelajaran digital yang inovatif, menarik, dan bermakna. Dengan mengikuti keempat tahapannya secara sistematis, pendidik dan pengembang media dapat menghasilkan produk yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga pada peningkatan kualitas pembelajaran.
Referensi:
Lee, W. W., & Owens, D. L. (2004). Multimedia-Based Instructional Design: Computer-Based Training, Web-Based Training, and Distance Learning. Pfeiffer.
Smaldino, S. E., Lowther, D. L., & Russell, J. D. (2019). Instructional Technology and Media for Learning. Pearson.
Reiser, R. A., & Dempsey, J. V. (2018). Trends and Issues in Instructional Design and Technology. Pearson.