Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi A’yun adalah saat mengikuti ONMIPA-AMLI 2025, yaitu olimpiade sains tingkat nasional pada bidang Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi yang diselenggarakan oleh Asosiasi MIPA LPTK Indonesia (AMLI). Kompetisi tersebut diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai universitas anggota AMLI di seluruh Indonesia. Pada ajang tersebut, A’yun berhasil meraih medali emas setelah melalui proses persiapan yang panjang dan penuh tantangan. Ia mengaku persiapannya dilakukan bertahap sejak semester awal, ditambah jadwal kegiatan yang cukup padat karena ONMIPA dan AMLI berlangsung berdekatan. Selain itu, pelaksanaan lomba secara online juga menjadi tantangan tersendiri karena pengumuman kelolosan diberikan dalam waktu singkat sehingga persiapan perangkat harus dilakukan dengan cepat. Walaupun cukup melelahkan, justru dari proses itulah A’yun merasa mendapatkan banyak pengalaman baru. Baginya, hal yang paling berharga selama mengikuti lomba bukan hanya soal kemenangan, tetapi kesempatan belajar bersama dosen dan sharing dengan teman-teman yang membuat dirinya berkembang. Saat mulai jenuh dengan rutinitas kuliah dan persiapan lomba, A’yun biasanya memilih jalan-jalan tanpa tujuan untuk menenangkan pikiran. Untuk urusan belajar, ia lebih suka belajar sedikit demi sedikit tetapi rutin setiap hari karena menurutnya konsisten jauh lebih penting daripada belajar banyak dalam satu waktu. Di akhir wawancara, A’yun juga membagikan pesan sederhana untuk mahasiswa yang masih takut mencoba ikut lomba. “Coba aja dulu. Karena kita nggak pernah tahu berhasilnya kapan,” ujarnya. Cerita Qurrota A’yun menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi lahir dari proses panjang, konsistensi, dan keberanian untuk terus mencoba meski pernah gagal berkali-kali.
Kontributor: Olivia Lorenza Putri & Hidayatul Latifah