Perjalanan menuju prestasi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, semuanya berawal dari rasa penasaran dan keberanian untuk mencoba. Hal tersebut tercermin dari perjalanan Afif Jauhari, mahasiswa Pendidikan Fisika angkatan 2022 yang berhasil menorehkan berbagai prestasi akademik, mulai dari lolos ke tingkat nasional ONMIPA 2025 di Bandung hingga meraih medali perunggu pada ONMIPA AMLI 2025. Di balik pencapaiannya tersebut, terdapat proses panjang yang dipenuhi konsistensi, kegagalan, kerja keras, serta pemahaman bahwa belajar fisika bukan sekadar soal hitungan, melainkan tentang memahami konsep secara mendalam. Ketertarikan Afif terhadap fisika dimulai sejak dirinya duduk di bangku kelas 10 SMA. Saat itu sekolah membuka pembinaan Olimpiade bagi siswa yang ingin mengikuti kompetisi akademik. Ia sempat dihadapkan pada dua pilihan bidang, yakni matematika dan fisika. Karena penasaran, Afif mencoba keduanya sekaligus sebelum akhirnya memutuskan untuk lebih serius menekuni fisika. Menurutnya, fisika memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan matematika karena menuntut pemahaman konsep yang lebih mendalam dan cara berpikir yang lebih kompleks. “Fisika itu lebih kompleks dan menantang karena harus benar-benar paham konsep dasarnya. Kalau konsepnya belum matang, sedikit diubah soalnya saja bisa langsung bingung,” ungkap Afif saat menceritakan awal perjalanannya di dunia Olimpiade. Sejak saat itu, Afif mulai menekuni fisika secara lebih serius hingga akhirnya memilih melanjutkan studi di Pendidikan Fisika. Ketertarikannya terhadap fisika terus berkembang seiring banyaknya pengalaman yang ia peroleh selama mengikuti berbagai kompetisi. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika mengikuti ONMIPA tingkat nasional di Bandung. Menurut Afif, kompetisi tersebut menjadi momen yang membuka pandangannya bahwa kemampuan fisika tidak hanya diukur dari seberapa banyak soal yang mampu dikerjakan, tetapi juga dari seberapa dalam seseorang memahami konsep dasar fisika itu sendiri. Sebelum mengikuti ONMIPA nasional, Afif telah mempersiapkan diri dengan mempelajari berbagai cabang fisika seperti mekanika, termodinamika, listrik magnet, hingga fisika modern. Namun ketika bertemu dengan peserta lain dari berbagai universitas di Indonesia, ia merasa bahwa persiapannya masih belum cukup. Ia melihat banyak peserta yang datang dengan kesiapan mental dan pemahaman materi yang sangat matang. “Waktu di Bandung itu rasanya beda. Mereka kelihatan benar-benar siap menghadapi soal yang akan diberikan. Dari situ saya sadar kalau belajar fisika itu nggak cukup cuma merasa sudah belajar banyak,” jelasnya. Pengalaman tersebut membuat Afif semakin memahami bahwa inti dari belajar fisika adalah memahami konsep dasar secara kuat. Menurutnya, seseorang mungkin bisa mengerjakan soal yang bentuknya mirip dengan latihan yang pernah dikerjakan sebelumnya, tetapi akan kesulitan ketika soal sedikit dimodifikasi apabila konsep dasarnya belum benar-benar dipahami. “Belajar fisika itu ternyata bukan cuma masalah hitungan, integral, atau turunan saja. Konsep dasarnya harus benar-benar matang, mulai dari mekanika sampai fisika modern,” tuturnya. Meski kini berhasil mencapai tingkat nasional dan meraih medali perunggu pada ONMIPA AMLI, perjalanan Afif tidak selalu berjalan mulus. Pada percobaan pertamanya mengikuti ONMIPA, ia belum berhasil lolos ke tahap berikutnya. Kegagalan tersebut sempat membuatnya kecewa, tetapi juga menjadi titik evaluasi yang sangat penting dalam proses belajarnya. Ia menyadari bahwa pada saat itu dirinya masih terlalu fokus pada penyelesaian soal tanpa benar-benar memperdalam konsep dasar materi fisika. Dari situlah ia mulai mengubah pola belajar dan memperkuat pemahaman konsep secara bertahap. Menurut Afif, rasa down dalam proses belajar maupun kompetisi adalah hal yang sangat wajar. Namun yang terpenting adalah bagaimana seseorang tetap bertahan dan terus melanjutkan prosesnya. Ia percaya bahwa hasil akhir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. “Prestasi itu bukan cuma soal menang atau kalah. Selama kita berkembang dan jadi lebih baik dari sebelumnya, itu juga termasuk prestasi buat diri kita sendiri,” ujarnya. Selain aktif mempersiapkan diri untuk kompetisi, Afif juga harus tetap menjalani tanggung jawab sebagai mahasiswa. Ia mengakui bahwa membagi waktu antara kuliah, tugas, dan latihan Olimpiade bukan perkara mudah. Dalam kondisi tertentu, ia harus menentukan prioritas yang paling mendesak untuk dikerjakan terlebih dahulu. Baginya, manajemen waktu menjadi salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki mahasiswa yang aktif mengikuti kompetisi. Afif juga menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu memaksakan terlalu banyak target sekaligus. Menurutnya, target yang terlalu tinggi justru bisa membuat seseorang cepat lelah dan kehilangan fokus. “Kalau semuanya dipaksakan selesai sekaligus, akhirnya malah capek sendiri dan hasilnya nggak maksimal. Jadi harus tahu mana yang lebih urgent,” katanya. Ia lebih memilih menjalani proses belajar secara bertahap namun konsisten dibanding memaksakan diri belajar terlalu lama dalam satu waktu.Dalam proses persiapannya, dukungan dari dosen juga menjadi salah satu faktor penting yang membantunya berkembang. Afif menyebut bahwa dosen-dosen di Pendidikan Fisika sangat mendukung mahasiswa yang ingin berprestasi, baik melalui bimbingan akademik maupun dukungan selama perlombaan berlangsung. Ia bahkan menceritakan bahwa dosen pembimbing Olimpiade secara rutin menanyakan perkembangan latihan soal dan menyediakan waktu khusus untuk berdiskusi bersama mahasiswa. Menurutnya, dukungan tersebut membuat mahasiswa merasa lebih percaya diri dan nyaman dalam menjalani proses kompetisi. Ketika ditanya mengenai cara belajar yang efektif, Afif menekankan bahwa kunci utamanya adalah konsistensi dan pemahaman konsep. Ia biasanya memulai dengan mempelajari konsep dasar terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan latihan soal secara bertahap. Setelah menemukan kesulitan, ia akan kembali memperdalam konsep sebelum mencoba soal dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. “Yang penting itu konsisten. Belajar sedikit demi sedikit tapi terus dilakukan,” ujarnya. Selain itu, Afif juga terbiasa mengonsultasikan hasil pekerjaannya kepada dosen agar tidak hanya fokus pada jawaban akhir. Menurutnya, dalam fisika proses penyelesaian soal sama pentingnya dengan hasil akhir karena kesalahan konsep bisa saja terjadi meskipun jawaban akhirnya terlihat benar. Cara belajar seperti itulah yang menurutnya membantu meningkatkan pemahaman konsep secara lebih mendalam. Di akhir wawancara, Afif memberikan pesan kepada mahasiswa yang masih ragu untuk mencoba mengikuti ONMIPA maupun kompetisi lainnya. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai mencoba. Baginya, keberanian untuk memulai jauh lebih penting dibandingkan menunggu merasa siap sepenuhnya. “Kalau menunggu siap terus, kapan mulainya? Mulai aja dulu. Nanti proses belajarnya akan jalan sambil berkembang,” pesannya. Bagi mahasiswa yang belum memiliki pengalaman Olimpiade sejak SMA, Afif menyarankan untuk memulai dari materi mekanika sebagai dasar utama sebelum mempelajari bidang lain seperti termodinamika, listrik magnet, dan fisika modern. Ia percaya bahwa selama seseorang memiliki kemauan belajar dan konsisten menjalani proses, kesempatan untuk berkembang akan selalu terbuka. Melalui perjalanan yang telah dilaluinya, Afif Jauhari menunjukkan bahwa prestasi bukanlah sesuatu yang diperoleh secara instan. Di balik medali perunggu ONMIPA AMLI dan keberhasilannya melaju ke tingkat nasional ONMIPA 2025 di Bandung, terdapat proses panjang yang dipenuhi kegagalan, evaluasi, kerja keras, dan keberanian untuk terus mencoba. Kisahnya menjadi bukti bahwa konsistensi, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar mampu membawa seseorang melangkah lebih jauh dari yang pernah dibayangkan sebelumnya.